Responsive image

Ekonomi

Selasa, 16 September 2014 admin Cetak

      Berdasarkan hasil analisis terhadap daya saing sektoral  dengan menggunakan Location Quotient dan Shift Share, maka sektor unggulan di Kabupaten Bima sampai 2012 ini adalah Pertanian dan Perdagangan.

1. Sektor pertanian

    Sektor pertanian merupakan sektor yang masih dominan dalam sektor-sektor ekonomi, karena sektor ini memberikan kontribusi hampir separuh (48,94%) dari PDRB. Sektor ini juga mampu menyerap tenaga kerja yang besar yaitu mencapai 57,67%. Sektor pertanian meliputi : tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Sektor pertanian merupakan dasar kemajuan ekonomi, karena pada sektor ini banyak menyediakan komoditi - komoditi yang dapat di olah menjadi barang-barang yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

1.1     Tanaman pangan

     Sub sektor tanaman pangan masih merupakan andalan bagi perkembangan perekonomian masyarakat di Kabupaten Bima, di mana sebagian besar tenaga kerja terserap dalam pengelolaan pertanian tanaman pangan.

       Pada komoditi pertanian tanaman pangan  non holtikultura, khususnya padi sering terjadi monoculture, dan terlihat bahwa petani masih belum cukup memperhatikan tanaman lain yang potensial dan memiliki harga pasar yang lebih tinggi seperti kedelai dan kacang tanah. Petani juga belum melakukan diversifikasi tanaman seperti padi dikombinasikan dengan tanaman kedelai, jagung maupun kacang tanah. Ataupun dengan tanaman tahunan seperti  pinang, dan kelapa sepanjang pematang sawah.

     Dari tanaman hortikultural dapat dilihat bahwa pemanfaatan lahan belum maksimal seperti pada tanaman bawang merah, mangga, nangka, dan lain-lain. Walaupun bawang merah merupakan komoditi yang terbesar dan komoditi andalan karena sudah cukup berhasil dan menjadi komoditi ekspor ke luar daerah dan biasanya ditanam setelah tanaman padi. Disisi lain, petani terkesan latah dalam melakukan penanaman tanpa memperhatikan pangsa pasar di kemudian hari. Seperti tanaman bawang pada awal musim harga tinggi, tetapi pada waktu produksi melimpah harga turun drastis. Tanaman –tanaman lain seperti mangga, dan durian masih belum maksimal upaya budidaya, karena petani-petani masih menfokuskan pada tanaman pangan atau tanaman – tanaman semusim. Namun petani-petani jarang melakukan diversifikasi (pengombinasian ) tanaman buah-buahan seperti mangga, rambutan, dan lain-lain dalam satu lahan kebun.

      Pemerintah, dalam hal ini Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Pemerintah Kabupaten Bima sebagai penggerak utama dalam roda perekonomian di sektor pertanian dan tanaman pangan telah  berusaha mewujudkan birokrasi yang profesional dan memiliki integritas yang tinggi, guna mendorong pembangunan pertanian yang mengarah pada pertumbuhan  pertanian yang tangguh, berdaya saing, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan serta mewujudkan ketahanan pangan dengan mengambil kebijakan seperti mendorong tercapainya ketahanan pangan dan lapangan kerja, mendorong terciptanya iklim usaha tani yang menggunakan tekhnologi dan rekayasa genetika serta melindungi hak petani. Potensi daerah yang dapat dikembangkan dalam bidang pertanian yakni bawang merah dan kacang tanah sebagai produk andalan, serta jagung dan kedelai sebagai produk unggulan. Masalah/ tantangan yang dihadapi serta perlu di selesaikan yakni:

  1. Rendahnya kemampuan petani dalam pengadaan Alsintan dan Saprodi lainnya.
  2. Tingkat produksi dan produksivitas komoditi pertanian masih rendah jika dibandingkan dengan potensi hasil.
  3. Tingginya angka kehilangan hasil dan rendahnya kualitas produk olahan.
  4. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran petani dalam penerapan teknlogi dan masih rendahnya kualitas SDM aparatur di lapangan.

Upaya yang telah dilakukan oleh Dinas terkait guna menjawab masalah dan tantangan yang dihadapi :

  1. Mengembangkan sarana dan prasarana guna menunjang pelayanan kepada masyarakat dan menunjang peningkatan pengelolaan lahan serta produksi pertanian.
  2. Mengembangkan inovasi teknologi dan melakukan akselerasi peningkatan produktifitas.
  3. Meningkatkan pengolahan dan pemasaran.
  4. Menyusun program pelatihan-pelatihan secara berkesinambungan.

      Produksi tanaman pangan tahun 2011 pada komoditi padi mengalami peningkatan 360.041 Kw/Ha sedangna pada tahun 2010 hanya 297.549 Kw/Ha. Sementara pada komoditi palawija semua komoditi pada tahun 2011 mengalami peningkatan hanya pada komoditi ubi jalar yang mengalami penurunan yakni tahun 2011 hanya 1.926 Kw/Ha sementara tahun 2010 2.642 Kw/Ha. 

      Produksi tanaman pangan tahun 2011 pada komoditi padi mengalami peningkatan 360.041 Kw/Ha sedangna pada tahun 2010 hanya 297.549 Kw/Ha. Sementara pada komoditi palawija semua komoditi pada tahun 2011 mengalami peningkatan hanya pada komoditi ubi jalar yang mengalami penurunan yakni tahun 2011 hanya 1.926 Kw/Ha sementara tahun 2010 2.642 Kw/Ha. 

1.2.     Perkebunan

          Pada sub sektor perkebunan, Kabupaten Bima memiliki beberapa komoditi unggulan, diantaranya jambu mete, kelapa, kemiri, asam, wijen, dan kopi. Dalam kurun waktu 2011, komoditi jambu mete mengalami peningkatan produksi yang cukup signifikan 654,44 ton. Peningkatan produksi ini terjadi karena perluasan areal tanam serta nilai jualnya yang semakin tinggi dibandingkan dengan jenis komoditi perkebunan lainnya. Khusus untuk tanaman kopi yang berada di kawasan Tambora produksi mencapai 802,98 ton, selama ini pengelolaannya dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Dinas Perkebunan Kabupaten Bima). Produk tanaman perkebunan dari Kabupaten Bima yang telah menembus pasar regional maupun nasional berupa jambu mete, kopi, kemiri, asam, dan wijen.

          Potensi areal pengembangan untuk berbagai usaha khususnya perkebunan cukup luas. Areal mana mempunyai kesesuaian lahan dan agroklimat yang berpotensi cukup baik untuk berbagai komoditi perkebunan. Kabupaten Bima memiliki potensi lahan yang cukup luas untuk pengembangan budidaya tanaman perkebunan. Dari potensi lahan seluas 78.615 Ha, yang telah dimanfaatkan baru sekitar 40%. Dengan potensi lahan yang masih tersedia untuk pengembangan tanaman perkebunan dan prospek pasar yang menjanjikan, peluang investasi untuk budidaya berbagai komoditi tanaman perkebunan dan perdagangan masih terbuka lebar. Disamping budidaya, peluang investasi juga terbuka untuk usaha pengolahan dan pemasaran. Selama ini, industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah tanaman perkebunan belum tersedia. 

 1.3.     Kehutanan

           Dari luas Kabupaten Bima 4.389,40 Ha, sebagian besar terdiri dari dataran tinggi dan hutan. Luas hutan negara sebesar 54,36 % dan 9,25% hutan rakyat.

           Sebagian besar dari hutan yang ada di Kabupaten Bima, telah rusak akibat dari ekploitasi hutan yang tidak sesuai seperti; perladangan liar , pencurian kayu dan pengusahaan hutan yang tidak mengindahkan peraturan perundang - undang dan kelestarian hutan. Ke depan, Dinas kehutanan Kabupaten Bima , telah merencanakan kerjasama dalam bentuk kemitraan dengan masyarakat dalam pengelolaan dan pemeliharaan hutan dengan budidaya komoditi kemiri , gaharu dan lain-lain. Hasil hutan yang potensial untuk di kembangkan antara lain: jati, Kemiri (bekerjasama dengan Dinas perkebunan), Rotan, Bambu dan produk lain seperti; madu dan menjangan.

           Kawasan hutan di Kabupaten Bima seluas 269.713 Ha, terdiri dari hutan lindung seluas  83.189,91 Ha, hutan konservasi seluas 69.871,41 Ha, hutan produksi terbatas seluas 73.532,91 Ha, hutan produksi seluas 116.646,20, dan HPK/IPK seluas 6.800 Ha. Disamping produksi berbagai jenis kayu, terdapat juga produk hasil hutan ikutan non kayu seperti madu, kemiri, rotan, dan bambu.

           Perkembangan produksi hasill hutan berupa kayu mengalami peningkatan produksi yang cukup tinggi pada tahun 2008 mencapai 53.641,29 m3  namun pada tahun berikutnya mengalami penurunan produksi seperti pada tahun 2011 hanya 3.971,2 m3. Selanjutnya produksi bambu mengalami peningkatan produksi pada tahun 2010 sebanyak 155.950 batang akan tetapi pada tahun 2011 hanya memproduksi 16.667 batang. Sementara untuk kayu bakar dan arang yang juga mengalami penurunan produksi pada tahun 2010 dan 2011. Penurunan drastis terjadi pada produksi rotan, dimana pada tahun 2007 tercatat mampu memproduksi 400 batang rotan, namun pada tahun 2008 hanya mampu memproduksi 66 batang. Untuk produksi hasil hutan non kayu, tercatat kemiri dan madu mengalami perubahan angka tiap tahunnya dalam hal produksi. Bahkan untuk madu sendiri pada tahun 2009 tidak terdapat hasill produksi padahal sebelumnya pada tahun 2008 mampu memproduksi 100 liter madu dan tahun 2007 memproduksi 22 liter madu. Untuk produksi kemiri sendiri benar - benar mengalami penurunan yang drastis tiap tahunnya, dimana pada tahun 2007 mampu memproduksi 38 ton, dan tahun 2008 teracatat 30,5 ton, pada tahun 2009 dapat memproduksi 127 ton.

 

1.4.     Peternakan

        Peternakan merupakan sektor yang cukup baik dan perlu pengembangannya di Kabupaten Bima. Jenis ternak yang ada meliputi ; sapi, kerbau, kambing, domba dan kuda. Di samping itu juga berkembang ternak unggas seperti; ayam buras, ayam potong, itik dan bebek.

    Jenis ternak yang dapat diandalkan sesuai dengan potensi dan prospek pengembangan areal ternak sapi, kerbau dan kambing. Ternak sapi dan kerbau sebagai ternak yang dieksport keluar daerah seperti Lombok dan Jawa sangat besar potensi dan prospeknya. Namun, karena sistem pengelolaan ternak masyarakat yang masih tradisional, sehingga hasil produksi ternak ini masih kurang menunjang kebutuhan ekspor ke luar daerah.

          Populasi ayam buras menjadi populasi terbesar dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Tercatat sejak tahun 2011 populasinya mencapai 427,605 ekor dan ditahun 2012 meningkat menjadi 436,157 Dari data tersebut dapat dilihat bahwa hampir semua populasi ternak mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hanya pada populasi kuda  saja yang mengalami penurunan, dimana pada Tahun 2011 6,224 ekor menurun menjadi 4,489 ekor tahun 2012.

           Luas lahan di Kabupaten Bima yang berpotensi untuk pemanfaatan peternakan sekitar 42,78% atau 187.781 Ha. beberapa kendala yang ditemukan diantaranya pola pemeliharaan ternak yang masih ektensif, dimana ternak yang dimiliki dilepas di padang penggembalaan mengakibatkan pemnafaatan kandang kelompok kurang maksimal sehingga berpengaruh pada tingkat produksi dan reproduksi ternak yang mengakibatkan rendahnya laju peningkatan populasi ternak. Kondisi topografi wilayah Kabupaten Bima yang tersebar luas dan berbukit-bukit mengakibatkan sulitnya pengawasan baik oleh petugas dan masyarakat sehingga meberikan peluang terhadap pencurian dan pengeluaran ternak secara illegal. kendala selanjutnya yakni masih tingginya angka pemotongan ternak betina produktif sehingga berpengaruh pada tingkat populasi ternak di Kabupaten Bima.

         Saat ini permintaan pasar untuk sapi, baik pasar nasional maupun internasional  belum mampu dipenuhi oleh peternak dari Kabupaten Bima maupun Provinsi Nusa Tenggara Barat. Disamping itu, belum adanya industri pengolahan juga membuka peluang bagi investor untuk mendirikan pabrik pengolahan hasil peternakan.

       Dalam RTRW Nasional menyebutkan bahwa Nusa Tenggara Barat, khususnya Pulau Sumbawa menjadi kawasan pemurnian dan pengembangan Sapi Bali. Merespon arahan tersebut, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat telah mencanangkan program Bumi Sejuta Sapi (BBS) serta PIJAR dan Pulau Sumbawa, termasuk di dalamnya Kabupaten Bima menjadi target utama untuk mewujudkan program tersebut.

1.5.     Perikanan dan Kelautan

       Potensi perairan pantai di Kabupaten Bima mencapai 9.455 Km2,  terdapat potensi ikan yang beraneka ragam baik ikan potensi ekspor maupun lokal sebesar 48.233 ton/tahun. Sumber daya potensial lainnya adalah mutiara dan rumput laut. Mutiara berpotensi sampai 0,2 ton pada lokasi di Kecamatan Langgudu, Wera, Sape dan Sanggar di mana telah ada 4 perusahaan dan banyak kelompok plasma budidaya kerang mutiara. Sedangkan rumput laut potensional yang cukup besar mencapai 2.648 ton pada tahun 2010 sedangkan pada tahun 2011 diproyeksikan sebesar 3.586 ton yang lokasi budidaya tersebar pada beberapa lokasi yakni Kecamatan Langgudu, Monta, Sape dan Lambu.  Potensi lain yang cukup berkembang adalah pertambakan bandeng mencapai 3.358 ton ditahun 2010 dan diproyeksi pada tahun 2011 ini mencapai 5.881 ton yang sentra produksinya di Kecamatan Woha, demikian halnya dengan dan garam rakyat, lokasi produksi dan pengembangan di Kecamatan Woha dan Bolo.

        Potensi perikanan baik penangkapan di laut, budidaya laut dan budidaya tambak berkembang dengan cukup baik. Dari hasil penangkapan di laut dengan potensi perairan yang luas menghasilkan kategori ikan palagis dan ikan demersal. Ikan palagis seperti; tuna, tengiri, dan tongkol dan lain – lain cukup besar, sedangkan ikan kategori demersal seperti; kerapu, kakap, kurisi dan udang/lobster hasil tangkapan masih kurang, sementara potensinya sangat besar. Jenis ikan ini sangat potensional dan memiliki harga yang tinggi untuk di ekspor.

       Budidaya laut seperti mutiara, rumput laut, dan budidaya ikan demersal belum berjalan dengan baik dan hasil yang diperoleh masih sedikit dikarenakan kegiatan budidaya masih sampingan dan masih kurang mendapat perhatian masyarakat.

      Budidaya tambak ikan maupun bandeng belum berhasil dengan baik, hal ini karena pengelolaan secara tradisional, di samping hal - hal lain yang berkaitan dengan bibit dan sarana produksi lainnya yang mahal. Budidaya inii pun  memiliki potensi pengembangan lahan yang cukup besar.

         Produksi perikanan selalu berada pada tingkat peningkatan pada tiap tahunnya. Dengan produksi tertinggi di hasilkan oleh usaha budi daya tambak yang terdiri dari bandeng, udang, lele dan nila tercatat hasil produksi tahun 2010  mencapai 3.500,23 ton/tahun. Sementara proyeksi tahun 2011 tercatat hasil produksi mencapai 6.177,28 ton/tahun. Peningkatan terjadi pada budidaya bandeng yang meningkat pada tahun 2010 produksi sebesar 3.358,23 meningkat dengan proyeksi tahun 2011 sebesar 5.881,60 ton. Peningkatan seperti ini  tejadi pula pada usaha rumput laut dimana pada tahun 2010 sebesar 2.648 ton dan meningkat pada tahun 2011 sebesar 3.586 ton.

       Salah satu komoditi yang memiliki keunggulan secara komparatif yaitu garam karena produksinya sangat berlimpah tetapi kebutuhan pasar masih relatif rendah. Luas lahan budidaya garam di Kabupaten Bima lebih kurang 869,15 Ha. Dari luas lahan tersebut, yang dapat dimanfaatkan baru sekitar 750,11 Ha, dengan produksi rata-rata 150 ton/Ha dan jumlah petani sekitar 1.160 orang. Kondisi ini menjadikan komoditi garam sangat memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut jika ditinjau dari luas lahan dan keberadaan tenaga kerjanya. Sampai saat ini, dari rata-rata produksi garam Kabupaten Bima yang mencapai 65.000 ton/tahun, baru sekitar 2.000 - 3.000 ton/tahun yang mampu diserap oleh industri pengolahan garam. Sementara sisanya dijual dalam bentuk aslinya untuk keperluan rumah tangga maupun industri, baik di pasar lokal maupun regional terutama untuk kebutuhan Indonesia Bagian Timur.

 

2  Sektor  Industri  Pengolahan, Kerajinan dan Pertambangan

         Sektor ini masih kurang hubungannya dengan sektor pertanian, karena hasil yang diproduksi dari sektor pertanian sebagian besar langsung dijual tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Hanya sebagian kecil hasil produksi yang sudah diolah. Berkaitan dengan hal itu, penyerapan tenaga kerja dari sektor ini hanya mencapai 4,54%. Angka ini memperlihatkan bahwa aktivitas masyarakat dalam pengolahan hasil masih kurang.

2.1     Industri  Pengolahan dan Kerajinan

         Pada tahun 2011 terdapat 4.585 unit yang bergerak pada bidang industri yang terdiri dari sentra pengolahan hasil pertanian, pengolahan hasil perikanan, pengolahan hasil peternakan dan kerajinan. pada sentra pengolahan hasil pertanian kegiatan utma yang dilakukan adalah pembuatan sambal jeruk, kue kering, dodol ketan, dodol nangka, keripik pisang, keripik singkong, tape singkong, tahu, tempe, minyak kelapa, bawang goreng dan pengolahan rumput laut. Pada sentra pengolahan hasil perikanan kegiatan yang dilakukan yakni pembuatan kerupuk ikan, kerupuk udang, ikan pindang, abon ikan, pengasinan ikan, pengeringan ikan dan bandeng presto. Pada pengolahan hasil peternakan hanya bergerak pada pembuatan abon sapi. Pada sentra kerajinan umumnya melakukan pembuatan anyaman pandan, anyaman ketak, anyaman lontar, batu cobek, gelas songga, dan gerabah. Selaian sektor tersebut diatas terdapat beberapa sub sektor seperti industri argo, industri kimia, industri pulp, dan kertas, dan industri hasil hutan. Di samping itu terdapat pula, industri logam dan mesin perekayasaan, industri alat angkut, industri tektil, industri elektronika dan aneka sub sektor - sub sektor industri di atas yang dapat dikategorikan dalam dua kategori yaitu formal (yang telah berizin usaha) dan non formal (belum berizin usaha). Industri yang masuk kriteria industri kimia, argo dan hasil hutan.

       Sektor industri pengolahan yang termasuk dalam kategori industri argo yaitu: tahu, tempe, pinang, sandang dan kulit dan lain – lain. Industri kimia yaitu garam rakyat/beryodium, bahan pertambangan dari tanah, dan kapur dan lain-lain. Sedangkan industri pulp dan kertas seperti cuci cetak foto, foto copy, dan lain-lain, dan industri hasil hutan seperti mebel/furniture dan lain-lain.

      Unit usaha industri tersebut lebih besar industri non formal daripada industri formal. seperti pada industi argo formal hanya 15,5% dan non formal mencapai 84,5%;industri hasil hutan yang formal hanya 5,6% dan non formal  94,4%,serta industri kimia yang formal sebesar 15,4%dan non formal 84,6%.

         Banyaknya industri non formal pada setiap unit usaha tersebut disebabkan karena ketidak tahuan dan keengganan pengusaha untuk mendaftarkan dan membuat surat iziin usahanya. Disamping itu, karena usaha  yang mereka lakukan masih dalam skala kecil/industri rumah tangga dan menjadi usaha  sampingan ; contoh : Ibu Rumah Tangga mengelola hasil pertanian keluarga dan menjual ke pasar lokal. Demikian pula pada industri lain, seperti mebel sebagian besar usaha ini di lakukan secara non formal.

        Salah satu kebiasaan masyarakat yang akan mendaftarkan dan membuat Surat Izin Usaha adalah jika mereka mau mengajukan kredit permodalan pada Lembaga Keuangan atau lembaga lain khususnya industri kimia yang mengelola bahan pertambangan seperti genteng pres, marmer, kapur dan bahan bangunan lainnya. Perkembangannya sebagaimana termuat pada tabel berikut, sedangkan untuk industri yang termasuk dalam kriteria industri seperti logam, mesin dan elektronika.

       

2.2 Industri Pertambangan          

        Sektor industri pertambangan di Kabupaten Bima sampai dengan dewasa ini belum cukup berkembang, karena untuk mengelola pertambangan membutuhkan tenaga kerja yang ahli dan terampil serta membutuhkan investasi yang besar. Namun demikian, untuk bahan tambang/penggalian seperti tanah, batu, pasir, kapur dan lainnya telah berjalan dengan cukup baik seperti industri batu bata, genteng, gerabah, penggalian batu dan pasir bahan bangunan dan pembuatan kapur bangunan.

         Sumber daya tambang dan mineral baik Golongan B maupun Golongan C di Kabupaten Bima cukup besar namun belum dikelola dengan baik. Misalnya Marmer yang memiliki potensi yang besar, batu gamping, dan bahan galian Golongan C lainnya. Sumber daya tambang Golongan B seperti emas, bijih besi, dan lainnya, belum sama sekali dikelola, karena membutuhkan peralatan dan investasi yang besar, sementara bahan tambang yang dikelola saat ini hanya bahan galian pasir besi dan batu mangan terlihat pada tabel 3.9. Dalam kegiatan industri pertambangan khusus galian C, sampai dengan tahun 2011 cukup meningkat, seperti perusahaan genteng press/biasa,  penambangan (batu, pasir,  batu (sirtu). Namun untuk perusahaan marmer sejak januari 2001 tidak berjalan lagi.

          Masalah-masalah yang dihadapi oleh dinas terkait dalam usaha pengembangan sektor pertambangan:

  1. Lokasi mineral primer berupa bahan galian gol B seperti emas, perak, tembaga, pada umumnya berada pada daerah yang berimplikasi terhadap sulitnya akses dan rentan terhadap tumpang tindih dengan kawasan hutan.
  2. Semakin berkembangnya penambangan tanpa izin (PETI) terutama pada penambangan batu bangunan, sirtu dll, hal ini dipicu karena adanya kebutuhan ekonomi masyarakat.
  3. Pengawasan dan penegakan hukum yang lemah atas setiap pelanggaran yang terjadi terhadap peraturan pengelolaan sumber daya mineral dan pengelolaan air tanah yang ada.

 Upaya yang telah dilakukan:

  1. Mengembangkan dan meningkatkan potensi wilayah pertambangan pada masing - masing lokasi kegiatan penambangan rakyat, terutama pada lokasi ( Kecamatan dan Desa ) yang berpotensi melalui legalisasi usaha penerbitan IUP sesuai UU Nomor 4 tahun 2009.
  2. Optimalisasi kegiatan inventarisasi potensi sumber daya pertambangan daerah melalui inventarisasi data yang lebih akurat sebagai bahan yang efektif dan efisien untuk perencanaan program dan promosi investasi.
  3. Meningkatkan diklat ketekhnikan yang lebih intensif untuk menunjang ketersediaan tenaga yang benar-benar profesional di bidang pertambangan dan energi guna melaksanakan tugas-tugas tekhnik dan pelayanan masyarakat yang prima
  4. Melaksanakan koordinasi lintas sektoral secara intensif dan terpadu dengan instansi terkait dalam pengembangan bidang pertambangan dan energi.
  5. Pengadaan sarana dan prasarana pendukung dalam pengelolaan dan pengembangan pertambangan energi terutama sarana dan prasarana lapangan dan laboratorium.
  6. Melaksanakan kegiatan Promosi Sumber Daya Mineral, yang prospek bagi pengembangan investasi secara intensif dan berkelanjutan.
  7. Melaksanakan pelayanan teknis (bimbingan dan penyuluhan, diklat) bagi pemasyarakat penambang untuk menunjang kegiatan pengembangan eksploitasi penambangan secara berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Sumber daya mineral sebagai bahan baku industri pertambangan meliputi marmer, batu gamping, pasir besi, mangan dan emas.

        Bahan galian tambang yang memiliki potensi tinggi dalam peningkatan produksi bahan galian yakni berada pada wilayah di mana tercatat pada tahun 2011 bahwa terdapat kandungan Andesit dengan luas area potensi sebesar 636.427.000 M3. dan beberapa wilayah lain yang amat berpotensi tinggi dalam pengembangan bahan tambang galian lain diantaranya di bebrapa kecamatan yang terdata terdapat kandungan Diorit seluas 150.000.000 M3, dan di Kecamatan ainnya tercatat terdapat Marmer seluas 118.190.045 M3. dengan potensi layak tambang.

2.3 Sektor perdagangan

         Sektor perdagangan merupakan sektor yang sangat berperan dalam mendorong perkembangan perekonomian. Sektor ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari semua sektor terutama sektor pertanian, industri pengolahan dan kerajinan, dan industri pertambangan, karena merupakan bagian yang memproses pemasaran dari hasil-hasil yang diproduksi sektor-sektor tersebut.

        Penyerapan tenaga kerja pada sektor perdagangan pada tahun 2011 mencapai 15,75 %. Angka ini termasuk sebagian besar dari usaha-usaha kecil yang masih dominan di Kabupaten Bima. Pertumbuhan sektor perdagangan di Kabupaten Bima, dari tahun ke tahun mengalami kemajuan yang berarti, walaupun dampak dari krisis moneter dan krisis ekonomi masih terasa sampai saat ini.

     Dalam bidang perdagangan yang  perkembangannya dapat dilihat dari penerbitan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) di Kabupaten Bima, pada tahun 2011 sebanyak 242 unit usaha.

       Disamping perusahaan-perusahaan formal dan non formal  di atas, masih banyak terdapat unit usaha perdagangan kategori kecil non formal yaitu usaha - usaha yang belum mendaftarkan usahanya ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bima. Sektor-sektor lain yang ada di Kabupaten Bima yang dapat mendukung pengembangan perekonomian seperti : sektor pengangkutan dan komunikasi, keuangan, perseroan dan jasa perusahaan, sektor pariwisata (lihat hasil studi Philip Hans) dan sektor jasa - jasa lainnya. Namun, dalam studi ini lebih lanjut akan dianalisa tentang sektor - sektor yang berkaitan dengan pengolahan sumber daya alam (agrokultur, pertambangan, agro industri dan perdagangan hasil bumi).

        Tingginya pembentukan modal di sektor perdagangan merupakan dampak dari perkembangan ekonomi yang didukung oleh berkembangnya sektor-sektor lapangan usaha seperti sektor pertanian, industri dan sektor jasa – jasa termasuk pengembangan pariwisata.

2.4. Sektor Pariwisata

         Kabupaten Bima memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan mengingat Kabupaten Bima memiliki letak geografis yang strategis dengan wilayah perairan yang terdiri atas pantai dan lautan yang memiliki keanekaragaman hayati didalamnya , serta panorama alam yang indah.

       Dikarenakan letaknya yang berada di antara tiga daerah wisata, yaitu Bali, Tanah  Toraja Dan Pulau Komodo. Kabupaten Bima memiliki potensi yang dapat di manfaatkan, dalam segi akses penghubung atau perantara tiga titiik pusat pariwisata tesebut, peran penting dapat ditawarkan dengan potensi alam yang menjanjikan, seni budaya yang tinggi serta obyek pariwisata yang tidak kalah dari tiga wilayah tersebut, sehingga daerah Bima tidak hanya menjadi tempat persinggahan semata namun dapat menjadi tempat dan bagian dari tujuan pariwisata itu sendiri. Namun demikian, bila belum memungkinkan tahun tahun berjalan ini visi menjadikan daerah Bima setara dengan tiga daerah tujuan wisata tersebut bima dapat meraih keuntungan dengan menawarkan prodak kerajinan tangan yang menjadi ciri khas daerah Bima, dengan tujuan setidaknya pengenalan awal bahwa Kabupaten Bima memiliki karya seni khas daerah, sehingga untuk kedepan produk kerajinan Bima dapat dikenal. 

       Tingkat animo masyarakat untuk menikmati keindahan alam atau sekedar meluangkan waktu luang bersama keluarga cukup tinggi, dan ini dapat di jadikan peluang ke depan untuk dapat terus dikembangkan. Tercatat bahwa tingkat kepadatan pengunjung yang tertinggi dicapai oleh wisata alam Pantai Kalaki dan Arena Pacuan kuda Panda. Ini membuktikan bahwa sudah seharusnya dan sepatutnya pengembangan pariwisata di Kabupaten Bima terus dapat dipacu. Sekarang saja usaha peningkatan dan fasilitas penunjang rekreasi pun telah mulai semakin dikembangkan, contohnya saja seperti Pantai Kalaki yang memang memiliki potensi besar. Fasiltas yang menunjang dalam usaha memanjakan pengunjung, seperti penyewaan kano, sampan serta lingkungan yang bersih menjadi salah satu faktor pendukung yang harus terus diperhatikan. Ini juga dapat mendorong meningkatnya perekonomian pada masyarakat yang berada di sekitar lokasi pariwisata guna sekedar berinteraksi dengan pelancong menawarkan jasa atau sebagainya. Ini sudah seharusnya mulai juga dilirik oleh masyarakat sekitar yang jeli melihat peluang.

         Selain Wisata Alam yang menjanjikan, di daerah Bima potensi pengembangan Taman Rekreasi telah dan tetap terus dikembangkan, seperti Madapangga, Oi Wobo serta Wisata Budaya dan Wisata Religi.   Akses transportasi yang lancar dan memang menjadi jalur potensial, menjadikan Madapangga sebagai alternatif pilihan rekreasi dan dengan ditunjang oleh keadaan lingkungan serta alam yang asri dan masih alami kendati ada beberapa bagian yang telah direnovasi guna alasan memperindah tata taman sebagai tujuan taman rekreasi serta fasilitas penunjang yang telah cukup dapat dipenuhi memberi kepuasan tersendiri bagi pengunjung. Alasan berkunjungpun bervariatif, ada yang memang datang dengan persiapan yang telah direncanakan bersama keluarga, atau sekedar menjadi tempat persinggahan lintas Bima-Dompu bagi yang melakukan perjalanan jauh.

        Museum ASI Mbojo, berada di tengah kota, memilki sejuta cerita sejarah masa lalu, peniggalan peniggalan sejarah, menjadikan ASI Mbojo begitu menarik untuk di kunjungi. Adanya kegiatan belajar mengajar disekokah yang dalam prakteknya melakukan kunjungan ke Asi Mbojo guna melihat langsung saksi sejarah yang masih berdiri kokoh di Tanah Bima ini, salah satu contoh positif dalam usaha pelestarian budaya dan penanaman cinta akan kebudayaan. Betapa tidak disadari atau tidak semakin zaman berputar kecendrungan melupakan nilai sejarah dan nilai-nilai luhur budaya telah sedikit demi sedikit terkikis. Dengan harapan, menjadikan Museum ASI mbjo menjadi salah satu tempat wisata setidaknya menumbuhkan kembali nilai-nilai cinta dan bangga akan kebudayaan luhur daerah dan bangsa yang pernah mengukir sejarah.                 

        Bima juga terkenal dengan potensi budayanya yaitu tari yang dapat digunakan untuk menarik wisatawan nasional maupun mancanegara. Tari tradisional ini biasanya dilaksanakan pada saat acara tertentu seperti Peringatan HUT Bima  maupun Prosesi Hanta U’a Pua. Upaya pengembangan wisata budaya ke depan harus terus dilakukan dengan lebih banyak lagi menggelar even wisata baik di Bima maupun promosi keluar daerah melalui media surat kabar maupun televisi/ radio.

2.5. Koperasi dan UMKM

       Parameter penting untuk menilai kemajuan pembangunan suatu daerah adalah tercapainya beberapa indikator utama ekonomi yakni peningkatan grafik pertumbuhan ekonomi masyarakat, peningkatan pendapatan dan daya beli dan terciptanya stabilitas harga. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bima tahun 2011 sebesar 5,63%, kaintannya dengan hal tersebut pemerintah daerah berupaya seoptimal mungkin untuk menggerakan seluruh potensi yang ada untuk berperan aktif dalam pembanguan ekonomi daerah yang salah satunya adalah menggerakan lembaga koperasi. Koperasi merupakan salah satu elemen penting dalam  percaturan ekonomi nasional maupun daerah, meskipun pada saat ini koperasi belum dapat memberikan kontribusi yang optimal bagi pembangunan ekonomidisebabkan karena masalh internal dan ekternal koperasi itu sendiri. Pemerintah daerah tetap memposisikan bahwa koperasi sebagai salah satu elemen penting dalam pembangunan ekonomi daerah saat ini. Kebijakan tersebut dilandasi oleh suatu pemahaman bahwa lembaga perkoperasian merupakan organisasi ekonomi yang menghimpun banyak lapisan masyarakat yang tidak mengenal adanya perbedaan kelas-kelas sosial.

       Pada tahun 2012  beberapa progran kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten  Bima dalam rangka pembangunan ekonomi daerah yaitu :

  • Program Pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif
  • Program peningkatan kualitas koperasi
  • Program Pengembangan sisitim pendukung UMKM
  • Program penciptaan iklim usaha kecil dan menengah yang kondusih
  • Program pemberdayaan KSP/USP dan usaha skala mikro

Dari kelima program tersebut diatas yang bersentuhan langsung dengan anggota atau masyarakat yaitu Program pemberdayaan KSP/USP dan usaha skala mikro melalui pengguliran pinjaman modal bantuan kerja yang bersumber dari dana APBD Kab. Bima. Pada tahun 2012 alokasi APBD Kab. Bima yang diarahkan untuk Program pemberdayaan KSP/USP dan pemberdayaan usaha mikro adalah sebesar Rp. 500 juta dengan rincian alokasi masing-masing Rp. 100 juta untuk pengguliran kepada KSP/USP dan Rp. 400 juta untuk usaha skla mikro sebnayak 77 kelompok dengan jumlah rata-rata anggota sebanyak 5 orang. Untuk penguatan permodal dari kebijakan pemerintah berkaitan dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai saat ini belum ada yang direalisasikan oleh pihak bank pelaksana KUR kepada kelompokmUMKM yang diusulkan, hal ini terjadi karena adanya aturan perbankan yang mengharuskan adanya jaminan atas pemohonan kredit meskipun dalam peraturan pemerintah tidak mensyaratkan adanya jaminan.

      Disamping anggaran yang bersumber dari APBD Kab. Bima, pada tahun 2012 terdapat sejumlah KSP dan USP maupun Usaha Skala Mikro yang mendapat kucuran pendanaan pinjaman dari Pemerintah Propinsi NTB sebesar Rp. 40 juta untuk 2 Kelompok Usaha Mikro masing-masing Rp. 20 juta dan kucuran Dana Bantuan Sosial dari pemerintah pusat untuk 3 KSP/USP sebesar Rp. 150 juta masing masing Rp. 50 juta. Selain itu diperoleh pula kucuran dana dari pemerintah pusat untuk kegiatan usaha produksi sebesar Rp. 100 juta untu 2 KUD.   

 Berbagai kebijakan ini telah memberikan dampak makro ekonomi secara positif bagi pencapaian target pertumbuhan ekonomi daerah. Keberadaan Koperasi dan UKM sebagai pelaku ekonomi daerah dengan jumlah yang paling besar telah menempatkan Koperasi dan UKM pada posisi strategis dan penentu dalam proses transformasi sosial ekonomi di daerah.

Tercatat pada akhir tahun 2010, jumlah koperasi aktif 158 unit meningkat menjadi 183 unit pada tahun 2011 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Kondisi ini didukung oleh pembinaan kelembagaan koperasi yang terus meningkat yang ditunjukan dengan peningkatan angka koperasi aktif. Dengan jumlah koperasi tersebut telah merangkul anggotanya sebanyak 52.206 orang pada tahun 2010 dan tahun 2011 sedikit mengalami penurunan 49.812 orang.

Secara makro pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh pertumbuhan sektor riil dan sektor moneter (keuangan). Sektor riil hanya akan tumbuh apabila didukung oleh sektor moneter, demikian pula sebaliknya. Pembangunan sektor keuangan merupakan salah satu kunci untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Koperasi adalah merupakan lembaga ekonomi yang bergerak di sektor riil (kegiatan produksi, distribusi serta kegiatan ekonomi konsumen) sekaligus juga di sektor keuangan disamping mendorong dan memfasilitasi kegiatan masyarakat atau pelaku ekonomi lainya. Salah satu fungsi koperasi adalah sebagai lembaga intermediasi keuangan.. Selain peningkatan usaha dan keuntungan koperasi sebagai suatu badan usaha yang tidak kalah pentingnya peranan koperasi dan UMKM dalam peningkatan komponen PDRB yang lain adalah peningkatan serapan tenaga kerja dan pendapatannya.

.

Dari berbagai kegiatan tersebut peran Koperasi dan UKM telah dan akan memberikan kontribusi yang besar terhadap pembangunan ekonomi daerah yakni mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sumber dayanya kearah berbagai kegiatan produktif dan potensial serta mendorong difersifikasi berbagai kegiatan ekonomi seperti pertanian, industri dan perdagangan disamping pengembangan struktur ekonomi kearah kegiatan sektor sekunder dan tersier yang lebih efisien dan produktif. Sehingga dari berbagai upaya tersebut peran koperasi dan UMKM secara signifikan dapat mendukung percapaian target pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bima 2011 sebesar 5,63%.

 

2.6  BPM Des

       Desa merupakan asset yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan inisiatif, kreatifitas serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai bidang usaha produktif, komoditi yang dapat dikembangkan sehingga mampu menyerap tenaga kerja dan mengatasi masalah pengangguran.

        Adapun potensi-potensi tersebut dapat dikembangkan melalui lembaga lembaga desa yang ada antara lain Karang Taruna, PKK, Remaja Masjid, LKMD dan lain-lain. Disamping itu juga lembaga keuangan mikro lainnya sperti BUMDes, KSPP, Kelompok Simpan Pinjam lainnya yang sudah terbentuk dimasyarakat tersebut mampu menyerap tenaga kerja (jumlah pengurusnya) dan menjangkau kebutuhan masyarakat yang membutuhkan modal usaha seperti pedagang bakulan, perkiosan serta kebutuhan petani, sehingga mereka mampu mengembangkan usahanya masing-masing.

       Bahwa masyarakat desa saat ini sedang menghadapi banyak perubahan, sehingga dituntut adanya kreatifitas dan pengembangan diri baik aparatur desa maupun masyarakat sehingga secara jeli dapat melihat adanya peluang untuk dapat bersaing dengan dunia luar. Namun potensi wilayah yang dimiliki tidak terekspos karena keterbatasan SDM, dan penanganan secara kelembagaan, sehingga perlu adanya sentuhan dinas terkait untuk membimbing secara tekhnis tentang manajemen pengelolaan sumber daya alam. Program-program yang perlu dilakukan guna meningkatkan usaha ekonomi masyarakat  diantaranya dengan memberikan dukungan dan bantuan permodalan kepada masyarakat melalui APBD yaitu BUMDes kepada desa yang di aloksasikan tiap tahunnya yang pengalokasiannya di alirkan melalui ADD, Bantuan Propinsi kepada desa desa yang pengelolaanya melalului BUMDes setempat serta bantuan melalui program nasional yakni Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) melalui Kelompok Simpan Pinjam Perempuan (KSSP) kepada PNPM-PM yang berada di setiap desa.

       Namun dalam perjalannya program program yang telah ditetapkan tentu tidak serta merta lepas dari permasalahn permasalahan yang menghambat jalannya program yang telah dilaksankan. permasalahan yang dihadapi dalam usaha pencapaian program:

  1. Masyarakat masih menganggap bahwa dana-dana bantuan dari pemerintah masih di anggap cuma-cuma, disisi lain ada dana yang diperuntukan kepada masyarakat secara bergulir namun masih belum berjalan dengan baik.
  2. Sumber daya manusia pengelola masih rendah sehingga membutuhkan arahan dan bimbingan.

Upaya yang dapat dilakukan guna mengatasi permasalahan yang ada:

  1. Melakukan pembinaan terutama tentang tatacara pengelolaan, penatausahaan dan pembukuan.
  2. Monitoring : Memantau secara langsung serta melihat perkembangan dilapangan terutama kelompok yang bermasalah dari hasil laporan masyarakat.

Manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan atau program yang dilakukan:

  1. Bagi masyarakat desa yang kekurangan modal tetapi mau berusaha dapat meminjam untuk mengembangkan modal usahanya.
  2. Pada saat musim tanam, petani dapat meminjam sebagai modal membeli bibit dan biaya pengelolaan, dan pengembaliannya pada saat musim panen.
  3. Masyarakat tidak lagi meminjam pada rentenir dengan bunga tinggi.
  4. Terjaringnya lapangan kerja yang cukup tinggi melalui BUMDes yang hingga sekarang tercatat mencapai 890 orang, serta dari kelompok Simpan Pinjam Perempuan (KSSP melalui PNPM-MP) yang tercatat mencapai 771 kelompok dengan jumlah tenaga kerja mencapai 2.223 orang.

      Terdapat 40 kelompok binaan BPPKB yang tersebar di beberapa desa dan kecamatan dengan berbagai ragam usaha seperti : makanan, ternak dan jahit untuk memberdayakan ekonomi wanita. Setidaknya kelompok usaha ini akan banyak membantu kepala rumah tangga untuk menambah pendapatan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.