Responsive image

Infrastruktur Pendukung

Selasa, 16 September 2014 admin Cetak

Potensi Infrastruktur Pendukung 

1. Terminal  dan Pelabuhan

            Untuk mendukung kelancaran transportasi darat, di Kabupaten Bima tersedia terminal darat yang umum masih berlokasi di Ibukota Kecamatan. Pelabuhan yang paling penting di Kabupaten Bima adalah pelabuhan Bima dengan fasilitas gudang dan terminal kontainer (belum dipakai), dan pelabuhan Sape yang dapat memperlancar perhubungan dengan wilayah lain seperti: Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara Timur.

            Pelabuhan laut telah dimanfaatkan secara optimal karena jalur pelayanan yang menyinggahi pelabuhan Bima maupun pelabuhan sape terus mengalami peningkatan. Pengembangan pelabuhan laut terus dikembangkan dengan rencana pembangunan pelabuhan di Rompo Kecamatan Langgudu.

          Transportasi udara di Kabupaten Bima adalah Bandar Udara Muhammad Salahuddin yang status terus mengalami peningkatan dan dilakukan perluasan bandara yang saat ini dalam proses pembebasan lahan yang bertujuan agar tansportasi melalui udara semakin lancar dan berkembang serta menjadi bandara yang setara dengan Kota- Kota Menengah lainnya di Indonesia. Transportasi udara melayani penerbangan perintis dan reguler ke Bandara Selaparan (Mataram), Ngurah Rai (Denpasar), Soekarno- Hatta (Jakarta), Juanda (Surabaya),  Labuhan Bajo, Tambulaka, Ruteng, Ende, Kupang dan Waingapu (NTT) dengan frekuensi penerbangan 2 kali sehari. Kondisi jalan ke depan akan terus diperbaiki seiring kebijakan nasional yang memberikan priroitas pada percepatan pembangunan infrastruktur jalan raya, sehingga memperlancar transportasi yang menunjang kegiatan sektor ekonomi.

2. Kelistrikan

   Listrik merupakan salah satu faktor pendukung dalam pembangunan. PLN cabang Bima sudah selayaknya memberikan pelayanan dan dukungan atas pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya mengingat begitu pentingnya keberadaan dan kebutuhan akan penggunaan listrik itu sendiri. Dalam tahun 2011 tercatat produksi energi listrik mencapai 1.676.738 KWh dengan energi listrik yang dipakai untuk konsumen (terjual) sebesar 49.949.824 KWh  dengan jumlah pelanggar sebanyak 50.125 orang, sementarara daya tersambung mencapi 37.128.970 VA denganb jumlah gardu sebanyak 243. Saat ini PLN cabang Bima terus menambah kapasitas dengan menyewa beberapa mesin baru, di samping itu juga pada tahun 2010 telah dilakukan pembebasan lahan untuk pembangunan SUTT (saluran udara tegangan tinggi dan telah dibangun tower SUTT dengan jumlah 139 tower yang tersebar di beberapa kecamatan yang akan mengubungkan dari PLTU Bonto sampai ke Kabupaten Dompu. Saat ini  PLTU Bonto di Kolo Kota Bima masih dalam proses pembangunan infrastruktur yang akan mampu memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Sumbawa, khususnya Bima- Dompu. Dalam beberapa tahun ke depan masalah listrik akan segera teratasi dengan baik, untuk saat ini telah dioperasikan mesin dengan kekuatan 10 megawatt untuk mengindari terjadinya pemadaman bergilir serta krisis listrik.

3. Air Minum

            Produksi ai bersih memang merupakan kebutuhan yang paling mendasar. Untuk itu sudah seharusnya, penyediaan akan air bersih sebagai sumber kehidupan utama sangat perlu diperhatikan dan tetap berkesinambungan baik dalam hal penyediaan, pengadaan, pengolahan maupun pemanfaatannya. PDAM sebagai peusahaan air minum daerah yang berusaha memenuhi kebutuhan akan air minum bersih di daerah selalu berusaha memberikan pelayanan yang baik. Kabupaten bima memiliki beberapa sumber air yang dapat memenuhi kebutuhan air bersih terdiri dari sungai mencapai 278.277,12 m3, Mata air sebesar 474.336 m3 dan air tanah mencapai 970.017,12 m3. Sementara penyaluran yang dilakukan oleh PDAM kepada pelanggan sebanyak 6.029 pelanggan dengan total penyaluran air mencapai 802.092 m3. Pengembangan PDAM dengan memanfaatkan persediaan air baku DAM Pelaparado telah rampung dilaksanakan dan dalam tahap pengembangan jaringan untuk PDAM, demikian pula di beberapa kecamatan lain.

 4. Jaringan Telekomunikasi

              Perkembangan jaringan telekomunikasi saat ini merupakan kebutuhan yang sangat penting guna mempermudah orang saling bertukar informasi dan memperoleh informasi yang lebih cepat. Kelangkaan dan asimetri informasi akan menyebabkan tingginya biaya transaksi ekonomi. Oleh karenanya, penyediaan informasi melalui pembangunan sarana pendukung akan mempermudah pengusaha/ pelaku dunia usaha untuk melakukan aktivitas usahanya dengan baik. Kondisi terakhir menunjukkan bahwa hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Bima telah terhubung dengan jaringan hand phone (hp). Pada tahun 2011 telah berdiri sebanyak 15 tower di beberapa kecamatan, bahkan akhir- akhir ini semakin banyak lagi pembangunan tower di Kabupaten Bima.

5.  Pasar, Industri dan Perdagangan

          Dalam rangka meningkatkan perkembangan ekonomi masyarakat, Pemerintah Kabupaten Bima telah membangun beberapa sarana pasar dan kios di beberapa wilayah kecamatan, yaitu di Tente, Bolo, Sape, Tawali, Wera, Sanggar dan Tambora. Pasar-pasar tersebut merupakan sarana publik yang pemanfaatannya diatur dengan Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati Bima. Masyarakat diberikan kesempatan menggunakan sarana tersebut untuk usaha perdagangan dengan membayar retribusi dan  pungutan lainnya setiap tahun. Seiring berkembangnya usaha perdagangan pada pusat- pusat pasar, maka ke depan perlu dipikirkan pembangunan tambahan beberapa los pasar dan kios  yang memenuhi persyarakatan estetika dan modernitas sehingga menjadi semakin menarik sebagaimana  bangunan pasar-pasar yang  ada di daerah lain.

       Demikian pula dengan usaha perdagangan  yang terus tumbuh seiring meningkatnya permintaan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Beberapa program pengembangan industri yang telah dilaksanakan mulai dari tahun 2009 s/d 2011 telah memberikan hasil yang mengembirakan. 

           Jumlah kelompok industri logam, Mesin dan perekayasaan (formal) sebanyak 35 unit usaha dengan tenaga kerja terserap sebanyak 112 orang dengan nilai investasi sebesar Rp. 888,4 juta dan nilai produksi mencapai Rp. 1,519 milyar. Sementara pada kelompok industri kimia, agro industri dan hasil hutan, untuk kegiatan formal jumlah perusahaan 54 unit dengan jumlah tenaga kerja 206 orang, investasi sebesar Rp. 1,372 milyar, nilai produksi 8,492 milyar dan non formal 60 unit dengan tenaga kerja terserap sebanyak 125 orang, nilai investasi  Rp. 92 juta dengan nilai produksi Rp. 732 juta. Diproyeksikan pada tahun 2012 secara umum IKM formal juga mengalami peningkatan dalam aspek unit usaha, investasi, produksi, penyerapan tenaga kerja dan bahan baku.