Responsive image

Perempuan 5 Orde

Rabu, 29 Maret 2017 admin Berita Terkini Cetak

“ Jika ada cahaya yang terus menyala sepanjang bumi berputar, ialah Matahari.” Demikian ditulis Naniek L.Taufan di lembaran awal buku “Demi Masa, Kenangan Perjalanan Karir Hj.Siti Maryam Salahuddin. Untaian kalimat itu memberikan gambaran tentang semangat hidup yang terus menyala dari sosok perempuan luar biasa yang hidup dalam 5 orde mengawal peradaban dan perjalanan tanah dan bangsanya. Dia tidak hanya hidup dan menjalani hidup, tetapi mengisinya dengan segudang karya indah dan cemerlang sebagai inspirasi bagi generasi penerusnya.Dialah Dr.Hj. Siti Maryam Salahuddin yang telah berkarya demi tanah tumpah darahnya selama 5 orde perjalanan bangsa dan mungkin akan terus berkiprah pada orde-orde berikutnya. Ina Ka’u Mari yang bergelar Bumi Partiga di Kesultanan Bima ini telah menjalani kehidupan dalam 5 masa(orde) yang panjang yaitu orde kesultanan sebelum Indonesia Merdeka, orde kemerdekaan, orde lama,orde baru, orde reformasi serta orde apalagi setelah reformasi. Selama menimba ilmu dan berdiskusi bersama di museum Samparaja, saya telah banyak mendengarkan suka dan duka perjalanan hidup puteri Sultan Muhammad salahuddin ini.

 

Ibu Maryam lahir pada tanggal 13 Juni 1927 ketika Istana Bima(Asi Mbojo) dibangun. Sebuah bangunan bersejarah yang kini tetap mendendangkan lagu keluguan masa silam kepada generasinya. Kala itu Asi Mbojo masih menjadi pusat pemerintahan dan satu satunya bangunan megah pada masanya. Sebagai puteri Sultan yang dijuluki “Ma Kakidi Agama”, Siti Maryam dan saudara-saudaranya mendapatkan bimbingan ilmu agama dari ulama-ulama istana seperti KH.Muhammad Said Ngali, KH.Usman Abidin, dan KH.Abdurrahman Idris. Siti Maryamlah satu-satunya manusia yang masih tersisa dan pernah merasakan suka dan duka, romantika dan kenangan hidup di Asi Mbojo ketika zaman telah mencapai lima orde saat ini.

Siti Maryam adalah puteri Sultan Muhammad Salahuddin dari permaisuri kedua yang bernama Siti Aisyah puteri Sultan Sirajuddin Dompu. Saudaranya adalah Abdul Kahir, Siti Halimah dan Siti Jauhara. Sementara saudaranya dari permisuri pertama adalah Siti Fatimah, Siti Aisyah,Siti Khadijah(  Paduka Sumbawa,istri Sultan Kaharuddin III),Siti Kalisom dan  Siti Saleha.

 

Setelah menamatkan HIS( Hollandsch Inlandsche School) pada tahun 1940, Maryam bersama  saudaranya Putera Abdul Kahir melanjutkan study di HBS(Hogere Burgerlijke School) di Malang. Namun semangatnya untuk tamat di sekolah ini harus pupus karena pecahnya perang dunia ke II. Sultan Salahuddin mengirimkan kawat(Telegrap) kepada putera puterinya untuk segera pulang ke Bima. “ Akhirnya kami pulang melalui Surabaya. Malam sangat mencekam. Pesawat tempur membombardir kota Surabaya yang gelap gulita. Menjelang Subuh, kami dijemput oleh pilot dan kru pesawat Quantas Airlines menuju Bima. Karena saya yang paling kecil di antara rombongan itu, saya digendong oleh Sang Pilot.” Kenang Ibu Maryam dalam sebuah obrolon sore di kediamannya sambil tertawa lepas karena digendong Sang Pilot. 

 

Ketika itu sudah ada pesawat khusus sebagai wadah transportasi udara yang melayani route London-Surabaya-Bima-Biak- Melborn Australia. Pesawat Quantas Airline mendarat di teluk Bima untuk mengisi bahan bakar di Nisa ( Pulau Kambing). “ Namun setelah kami turun, pesawat itu ditembak jatuh oleh pasukan Jepang dalam perjalanan menuju Biak.” Kenang Ina Ka’u Mari sedih, karena di antara para penumpang itu kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak warga Inggris dan Australia.

 

Setelah ayahanda, sultan Muhammad Salahuddin wafat pada tahun 1951, kesultanan Bima mengalami masa transisi. Tiga arus besar menghadang perjalanan panjang Dinasti Manggampo Donggo dan Bilmana yaitu arus proklamasi dan NKRI, arus status quo yang ingin tetap mempertahankan eksistensi kesultanan dan kelompok masyarakat yang tidak menginginkan lagi sistim kerajaan dan kesultanan itu tetap ada di tanah Bima. Arus pertama dan ketiga begitu kuat dan bergerak cepat,sehingga perlahan tapi pasti, keluarlah udang-undang nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Bali, NTB dan NTT. Kerajaan Dan Kesultanan Bima berakhir karena sejarah itu sendiri.

 

Sejak tahun 1951, Ibu Maryam menetap di Jakarta, memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMAN Budi Utomo dan tamat pada tahun 1953. Namun pada tahun 1952, Siti Maryam telah diangkat menjadi PNS pada Kementerian Luar Negeri RI. Sambil menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Siti Maryam dimutasi ke Kementrian Kehakiman RI dan menjadi staf Dirjen Perundang-Undangan antara tahun 1957- 1960. Setelah tamat di Universitas Indonesia, Siti Maryam diangkat menjadi Staf Ahli Menko Kehakiman RI tahun 1960 hingga 1964.

 

Karirnya di Jakarta harus terhenti ketika Gubernur pertama NTB, Ruslan Cakraningrat mengajaknya untuk mengabdi di Bumi Gora. Sejak tahun 1964 hingga pensiun pada tahun 1987, Siti Maryam menempati posisi penting di kantor Gubernur NTB yaitu sebagai Sekretaris tetap Panitia MPRS Provinsi NTB, Pejabat Sementara Bupati Bima pada tahun 1966, Kepala Biro DPRD GR Provinsi NTB 1966-1968, Direktur PD Tribusana 1968-1969, Kepala Biro Desentralisasi dan Tata Hukum Provinsi NTB 1969-1973, Kepala Direktorat Pemerintahan Umum tahun 1973-1974, Asisten III Setwilda NTB 1974- 1985 dan pension dengan Jabatan terakhir Asisten II Setwilda NTB 1985-1987. Diceritakannya, saat menjabat sebagai Pejabat sementara Bupati Bima, Siti Maryam merintis dibukanya kembali Bandara Udara Palibelo dan mengusulkan penggantian nama menjadi Bandara Sultan Muhammad Salahuddin. “ Melalui lobi yang sangat intens dengan  pihak kementrian Perhubungan, saya berhasil menghadirkan pesawat Merpati Perintis pertama yang menghbungkan wilayah NTB dengan wilayah NTT dan sekitarnya. “ Kenang Siti Maryam.

 

Disamping itu, ketika menjabat sebagai Asisten III Gubernur yang membidangi masalah kepegawaian, Siti Maryam telah berjasa mengisi kekosongan guru di NTB. Sejak tahun 70 an, Siti Maryam banyak mengusulkan pengangkatan guru-guru di pelosok NTB, termasuk mengangkat orang-orang Bima, Dompu dan Sumbawa untuk mengajar di Pulau Lombok. Sejak itulah, hingga kini warga Bima dan Dompu banyak yang menjadi guru dan kepala sekolah di Lombok dan menjadi warga sasak. “ lulusan SPG dan SGO di Bima banyak yang diangkat menjadi guru, tetapi mereka tidak mau mengajar di luar Bima, akhirnya mereka saya dekati dan dijemput dengan kendaraan khusus ke Lombok. Kala itu pelabuhannya masih di Alas Sumbawa. “.Kenang perempuan yang telah memperoleh lebih dari 40 penghargaan dan tanda jasa ini. Pada Desember 2015, menerima penghargaan sebagai Tokoh Bahasa Dan Sastra NTB 2015 dari Kantor Bahasa Mataram.  

 

            Pensiun dari PNS tidak membuat puteri ke enam dari Sultan Muhammad Salahuddin ini berhenti bekiprah. Maryam malah duduk di senayan sebagai anggota DPR/MPR RI selama dua periode sejak tahun 1987 hingga 1997. Di celah tugas sebagai anggota legislative, Ina Ka’u Mari juga menjadi dosen tidak tetap dan sebagai Dewan Pembina APDN(Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Mataram, dosen pada Fakultas Hukum Universitas Mataram, dan Ketua Jurusan Hukum Indonesia Unram hingga tahun 1992.

            Sederet pengalaman organisasi juga digeluti Hj. Siti Maryam yaitu sebagai wakil ketua MUI NTB, Pengurus LPTQ NTB dan pengurus Kwarda Pramuka NTB hingga tahun 1985. Siti Maryam juga pernah memimpin organisasi wanita di Bima dari tahun 1947 hingga 1951.Beberapa organisasi yang pernah digelutinya adalah Gerakan Mahasiswa Jakarta dan IMADA, Ketua umum Pengda PBSI, PERWOSI, PASI, dan DPD I Himpunan Wanita Karya NTB. Di bidang Politik, Siti Maryam aktif di Partai Golongan Karya dan menjadi Dewan Penasehat Partai Golkar hingga sekarang.

 

            Di Bidang sejarah dan kebudayaan, kiprahnya tidak diragukan lagi dalam menyelamatkan Marwah Kebudayaan Mbojo dengan melestarikan dan mengamankan naskah BO. Spirit inilah yang menjadikannya sebagai pemerhati dan ahli dalam transkripsi naskah-naskah. Sehingga pada tanggal 23 November 2010, meraih gelar Doktor Filologi pada Universitas Pajajaran Bandung. Di usia senjanya, Maryam tetap bersemangat. “ Tubuh tuanya masih terus memancarkan semangat, sorot matanya selalu berbinar manakala berbicara tentang pendidikan. Semangat sekolah sejak kanak-kanak ada dalam dirinya masih terus menyala. Long Life Education, bukan slogan baginya, tetapi itulah dirinya. “ Tulis Naniek L.Taufan.