Responsive image

Mencari Jodoh Ke Tanjung Langgudu

Rabu, 29 Maret 2017 admin Berita Terkini Cetak

Tanjung Langgudu yang berada di seberang teluk Waworada Bima memang indah memesona. Perjalanan dengan menggunakan perahu motor menuju ke tanjung jodoh ini memakan waktu sekitar tiga jam dari dermaga desa Rompo kecamatan Langgudu. Tanjung ini juga bisa ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang 12 kilometer dari desa Karampi atau Sarae Ruma. Kenapa disebut Tanjung Jodoh? Pada masa lalu Tanjung ini memiliki kenangan sejarah bagi warga Langgudu dan sekitarnya. Di tanjung inilah, muda mudi Langgudu pada masa lalu mendapatkan jodoh.

Dulu, ada satu tradisi yang hidup di tanjung ini yaitu tradisi Olo.Tradisi ini adalah tradisi berpantun dan bersyair di antara muda mudi yang dilaksanakan pada setiap bulan purnama ke-14 hingga ke -15 setelah panen. Saat itulah, muda mudi Langgudu dan sekitarnya berbondong-bondong menuju Tanjung Langgudu. Mereka membawa perbekalan dan perangkat untuk menginap. Di bukit-bukit kecil di Tanjung Langgudu, mereka berpantun dan bersyair sambil memukul kentungan dari Bambu atau yang dikenal dengan Katongga O’o( Bima : Katongga = kentungan, O’o = bambu).

Berikut contoh dua bait syair Olo yang pernah dilantunkan pada setiap tradisi Olo ke Tanjung Langgudu. Dua bait ini adalah syair dan pantun yang saling berbalas antara remaja putera dan puteri.

Podasi ne’e,mu ade waki nahu amaniae

Wa’apu u’a labo nahu dei mama ina nahu

Tisi wa’amu u’a labo nahi marugi kaiku nahu

( Jika kakanda mencintai daku

Bawalah sirih pinang kehadapan orang tuaku

Jika tidak, maka engkau tidak akan mendapatkan daku )

 

Uripu be di ne’emu uri arie

Be dei ne’emu urie…. Nahu ma kanggini na arie

Nahu ma sanggu wea susa ndadi nggomi weha kawei.

( Mintalah apa saja yang adinda inginkan

Apa saja yang kau minta akan aku sanggupi

Aku akan sanggupi semua asalkan engkau menjadi istriku )

Kesenian OLO hidup bersama Keindahan Teluk Waworada.Kesenian olo adalah tradisi berbalas pantun. Ada 4 nada dan jenis pukulan yang dimainkan dengan memukul Kentongan yaitu Danda Wawo, Karete, kadodi, Tonji Tauwaga. dan Lampa Karumbu. Olo secara harfiah berarti mencabut atau melepaskan.Jadi Olo adalah melepas masa lajang. Selepas Olo biasanya muda mudi Langgudu melapor kepada aya bundanya bahwa mereka sudah bertemu jodoh di Tanjung Langgudu. Olo merupakan acara pesta panen.

Namun tradisi Olo ke tanjung Langgudu harus dihentikan pada tahun 1984 ketika terjadi musibah tenggelamnya perahu muda mudi yang melakukan Olo dan menelan korban tewas delapan orang. Pemerintah Daerah Kabupaten Bima melarang melaksanakan Olo di tanjung Langgudu.Tradisi Olo berubah menjadi kesenian biasa yang tidak lagi melekat dengan tanjung Langgudu. Olo tidak lagi hidup bersama tanjung Langgudu dan hanya digelar setiap ada acara hajatan warga dan menerima tamu desa.

Olo akhir-akhir ini mengalami stagnan. ” Generasi muda kurang tertarik mempelajari dan menekuni kesenian ini. Mereka hanya jadi penonton ketika setiap pagelaran kesenian Olo digelar. Mereka tidak tertarik untuk mempelajarinya.” Ungkap Mas Imo, salah seorang ibu asal desa Karampi. Perlu terus proses regenerasi kesenian Olo sebagai warisan budaya teluk Waworada.